Langsung ke konten utama

Zen Oleh March Az



“Aku sudah jauh pergi dari kota yang mempertemukan kita.  Jauh, jauh sekali,  bahkan jika kau cari aku kembali, aku jamin kau tidak akan menemukan ku. karena aku sudah berjanji pada sejarah untuk melupakanmu” Itulah isi email yang kau kirim pada ku zen, kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Sering sepertiga malam setalah aku shalat malam, ku buka komputer lipat ku, sign in email dan mencari-cari pesan terakhirmu yang kau kirim padaku lewat email. Aku tau zen, ini bukanlah tahun-tahun pertama kau meninggal kan ku, tapi ada sesutu yang sulit ku jelaskan tentang posisimu di hatiku. Bahkan tanpa kabarmu dalam kurun waktu yang begitu lamapun hatiku tetap saja berada disana, bersamamu. Cinta ini memang sudah tak tampak, namun ia tak hilang. Ia hanya mengubah bentuk pencitraannya saja. Lebih nya cinta ini berkamuflase menjadi boomerang rindu yang ahh, tidak dapat ku sampainya zen. Jujur saja rasa rindu itu sedikit benyak membunuh jiwaku
Zen, dulu saat-saat kita masih berseragam putih abu-abu begitu banyak kenangan yang kita ukir bukan ? Ingatkah kau dengan tulisan yang kau tulis di bebatuan depan kelas tepatnya dibawah pohon palm yang rindang itu ? Ya, mungkin kini bebatuan itu sudah rapuh karena menangggung kegetiran menahun disinari panasnya matahari dan dinginnya hujan, juga mungkin sadisnya angin malam. Zen, aku rindu pada tingkah egoismu. Tingkahmu yang menumbuhkan rasa dilematis dalam hidupku saat itu. Aku rindu raut wajahmu saat kau cemburu, saat kau tidak mengizinkan aku untuk bergabung bermain dengan teman laki-laki lainnya. Saat kau berusaha keras mencarikan sebuah pena didetik-dekit menjelang ujian, saat kau rela berhujan-hujanan hanya untuk mendengar keluh kesahku. Aku rindu zen, apakah kau juga sama ? Ah, aku sudah terlalu sering berhipotesa dengan khayalan yang aku rangkai sendiri. Sejatinya hipotesa itu selalu gagal, hingga aku kembali terjatuh
Zen, satu hal yang sedari dulu ingin ku tanyakan padamu. Seberapa besar kau mencintaiku dan seberapa layak aku untuk dapat bersama ? Jika kau jawab dulu, mungkin dengan hati tang dingin dan perasaan menggebu-gebu kau jawab kau sangat mencintaiku, dan aku sebenarnya tak layak bersamamu namun aku harus membenah diri agar layak bersamamu, ya mungkin itulah jawaban yang keluar dari mulutmu.
Zen, malam ini begitu dingin. Sedingin hatiku menceritakan kembali kisah kita dalam komputer lipat dengan layout kertas putih 21x29,7 cm ini. Sesekali angin meniup rambutku yang tergerai dan sesekali ku dengar juga angin sadis membisik kan namamu. Zen, aku sepi. Malam ini hanya berteman secangkir teh hangat diatas gelas bundar dan roti kering sisa tadi siang. Tak mau kah kau menemani ku sebentar Zen ? Tak perlu lama, hanya ingin ku lihat dan ku pastikan bahwa kau baik-baik saja. Zen, sudah banyak sekali aku mention kau via twitter, tapi tak satupun yang kau re-twet. Sudah banyak sekali aku berkirim pesan via email padamu, tak satu pun juga yang sudi kau baca. Sebegitu besarkah salah ku dimata ? Ohya Zen, ingat kah kau saat kita bersenda gurau saling berkirim twit-pic. Begitu banyak foto-foto lucu ku yang kau kirim ke  twiter, dan aku pun marah. Malam itu terjadi perang kecil-kecilan antara kau dan aku. Twitt-war, tak peduli seberapa banyak orang yang membacanya, tak peduli seluruh dunia mengetahui perkelahian kita saat itu. Sangat menyenangkan bukan ?
Zen, bercerita masa lalu ini memang mungkin salahku. Salah ku yang mengkhianatimu dan mencurangi kisah cinta yang dulunya terjalin begitu indahnya. Aku sadar ini bukan cerita Roman seperti di FTV, apabila sang wanita menkhianati cintanya dengan rasa sabar yang tiada terbatas sang pria pun tetap memaafkan dan bila wanita itu kembali pada pria, dengan bodohnya pria itu mau menerimanya kembali. Tapi itu hanya permainan skenario saja. Kau bukan tipe lelaki seperti itu Zen, aku terlalu pintar untuk hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan.
Malam itu, semua diluar kuasaku. Aku tidak tau menahu tentang perjodohan itu pada awalnya. Semua ku sangka berjalan baik-baik saja. Idris datang hanya untuk bersilaturahmi, bukan untuk kepentingan lain fikirku. Fikiran ku sama sekali tak pernah berarah pada sebuah perjodohan. Apalah arti perjodohan bagiku yang masih duduk dibangku SMA kala itu. Namun, malam itu aku keliru. Antara kau dan idris. Jika aku memilih Idris, musnahlah sudah cinta kita yang sudah terjalin lebih dari seribu malam itu. Dan jika aku memilih mu, musnah sudah kebaktian kepada kedua insan yang dengan penih keringat membesarkan ku. Belum lagi budaya kita mengajarakan untuk selalu menuruti perkataan orang tua, kalau tidak bisa kualat katanya. Kala itu aku benar-benar labil, ku tatap wajah kedua orangtua ku yang oenuh oengharapan agar aku menyetujui perjodohan ini. Ini terjadi tak lain dan tak bukan karena nenek buyut ku yang telah berjanji untuk menjodohkan anak gadis dari keturunan dengan keluarga Idris. Bedebah, sangat-sangat bedebah ! Harus kan aku yang menangung ini Zen ? Dengan berat hati, aku mengiyakan perjodohan ini. Ntahlah Zen, jika harus memilih lebih baik aku terlahir sebegai laki-laki agar tidak dijodoh kan dengan Idris !

Nah, dan kau Zen tanpa syarat apapun kau jauhi aku. Kau anggap aku musuhmu. Dan puncak nya saat ferewell party SMA, kau sama sekali tidak mengucapkan sepatah kaat kua apapun untukku. Kau berlalu begitu saja. Dan kabar terakhir yang ku dnegar, aku kembali ke kempung halamanmu tanah minang, sumatra barat untuk melanjut studymu. Dan aku tetap bertahan di tanah rencong ini, dan melanjutkan study sebagai mahasiswi keperawatan.
Tentang Idris, ia kuliah diluar pulau sana. Dan kabar yang terakhir ku dengar tentang jodohku itu, ia banyak berhura-hura. Aku pun memutuskan, berbicara dengan kedua orangtua ku untuk membatalkan perjodohan keparat ini. Maka dari itu Zen, datanglah kembali. Waktu memberimu kesempatan untuk kembali menyambung cinta kita. Dan karena hatiku pun masih untukmu, tapi sayangnya, kau hilang ditelan euforia dunia. Tak berkabar dan tak berkisah.
Bahkan kini, aku sudah wisuda. Sudah menjadi seorang perawat dirumah sakit di kota yang mempertemukan kita beberapa tahun yang lalu. Dan apa kabar mu disana Zen ? Disini aku merindukanmu......
Tapaktuan, 07 Juni 2015 03.52 Pm

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah penelitian “ PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH”

OLEH: Nama                  : Rizky Syahputra Kelas                   : x3 Judul penelitiian : “ PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH” Kata penghantar Makalah penelitian Karya Ilmiah Remaja yang berjudul “PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH” bertujuan untuk mengupas lebih dalam tentang             pertumbuhan tanaman kacang tanah. Makalah penelitian ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah. Sebagai makalah penelitian, hakikatnya hasil dari penelitian-penelitian tersebut dijadikan satu hingga menjadi suatu himpunan karangan pengatahuan yang berguna untuk umum.. Para pembaca makala...

Katagori : Cerpen

Chebi dan Kempri Oleh : March Az Waktu subuh yang masih digulung kelam membawa katak yang tengah bermalas-malasan harus bangkit dari mimpi malamnya. Hutan membuatnya terpaksa melompat-lompat kembali kesana. Bukan prihal sederhana, karena ingin bersilaturahmi dengan hewan dan binatang lainnyya sekaligus memberi kabar gembira bahwa telah menetas diatas dunia yang penuh sandiwara ini anak-anaknya, kecebong indah dang mungil.   Sebelum ia berranjak pergi, tak lupa ia titipkan kecebong-kecebong ini pada tumbuhan Putri malu. Kecebongan yang tinggal didalam kubangan air berwarna coklat. “ Putri malu, ku amanatkan padamu anak-anakaku kempri” Pesan sang katak. Putri Malu terheran-heran mendengar sebutan kecebong tersebut. “Kempri?” tanya putri malu dalam hati. Sang katak seolah paham rasa gusar dihati Putri malu, segera ia menjelaskan menganai arti dari nama anak-ananknya itu. “ Kempri itu seperti nama-nama orang besar. Terdiri dari enam huruf. 4 konsonan dan 2 huruf vokal. 4 : 2 Se...