Langsung ke konten utama

Prolog Penculikan Oleh : March Az



Intel berjaket kulit hitam pekat itu menoleh, dengan wajah penasaran ia mendorong pintu kayu yang lapuk dan bolong-bolong karena di gigit rayap. Terdengar sayup tangis dari dalam, mungkin dari salah satu sekat ruangan di dalam. “Deri…” Jerit seseorang disana. Dengan penuh rasa was-was intel ulung itu menoleh, ada wanita cantik disana. Perlahan sang intel berjalan mendekati wanita berparas elok itu. “Ah, kau Fris ! Mengganggu ku saja ? Sedang apa kau ?” sesekali Deri menengok kiri-kanan, takut kalau-kalau ada seseorang yang lain mengintainya.
“Aku hanya ingin membantu menyelesaikan kasus ini” tukas Friska. Ia siap tempur dengan penampilan nya, sepatu bots setinggi lutut, T-shirt hitam, dan celana sepaha. Derianto bergeming meninggalkan Friska yang sedari tadi memajukan muncungnya karena kurang suka dengan respon sang intel. Friska mengikuti sang intel dari belakang, perasaan mereka harap-harap cemas. Untuk pertama kalinya ia rela mengorbankan ketakutannya untuk keberanian yang luar biasa dan hal ini tentu saja dilakukan Friska untuk memikat hati sang intel, Derianto.
Sementara didalam markas busuk, tujuh orang tawanan tersandar di dinding-dinding kumuh penuh coretan. Para mafia ular itu telah menyekap tawanan itu lebih dari 56 jam. Polisi masih belum mengetahui pasti kasus penculikan ini. Tawanan berasal dari kalangan seniman, pegawai sipil, juga dokter. Reza yang berprofesi sebagai pelukis, ia di culik setelah melakukan transaksi jual beli karya lukis dengan seorang turis yang berkunjung ke galeri mewahnya. Aja seorang dokter muda cantik, di culik setelah melakukan kegiatan social bidang kesehatan di perkampungan kumuh. Apri, seorang psikolog di culik setelah seorang perempuan berpenampilan aneh datang padanya untuk kosultasi, Mareta seorang perawat dan penulis di culik saat ia sedang bertugas piket malam di RSU pusat kota. Irwansyah seorang pujangga gagah belum jelas kapan ia di culik.Irmalina pengusaha kosmetik di culik setelah beberapa hari melingkarkan cincin pertunangan di jari manisnya, dan Rofik, seorang pegawai negeri di tabrak sengaja, kemudian di angkut dan di bawa oleh truk luar kota yang berisi ribuan kambing. Siapa di balik penculikan masal ini ?
“pulangkan saja ia ke tanah, haha” tawa itu menderu-deru memekak kan telinga. Disambut lagi dengan tawa-tawa setan dari yang lainnya. Dapat di taksir dari berbagai jenis tawa, ada 8 mafia di luar markas yang merencanakan sesuatu. Derianto mencoba untuk mencari sketsa wajah-wajah mafia itu. Friska yang masih saja mengikuti membuat resah sang intel. Derianto tak memperdulikan nya, dengan segera ia mengeluarkan telepon genggamnya dan memanggil sebuah kontak, tertulis “My assist Tika” . terjadi percakapan panjang antara mereka. Friska mangut-mangut seperti cemburu. Tak lama kemudian datang seorang gadis cantik berambut panjang dengan jaket abu-abu dan celena selutut. Ia mendatangi sang intel. Melihat hal ini, jelas saja Friska merasa tersisihkan. Perlahan-lahan melangkah, Friska berlalu pergi bersama kecemburuan meninggalkan sang intel, dan assistennya. Sebenarnya Friska sudah bertunangan dengan Syafwin, ketua mafia penculikan 7 tawanan itu, namun Friska menaruh hati pada Derianto, sudah sejak SMA bahkan. Namun kerena keinginan kedua orangtuanya friska terpaksa bertunangan dengan orang yang tak sama sekali ia cintai.


“Untuk makan siang ku rasa kalian lebih pantas ku beri cacing” Syafwin ketua mafia memberi satu persatu bungkusan nasi kepada tawanan. Lima menit senyap, keadaan hening. Syafwin hanya memperhatikan satu persatu, dengan gaya setan usil ia menyepak makanan Aja, lalu berkata “ Rakus sekali kau, seperti bukan seorang wanita saja. Kau liat lah teman wanita mu yang lain, mereka bahkan tak sanggup makan karena ada aroma bebauan di ruangan ini, dan kau ??? Aisssh, ku rasa sebelum di sergap kau belum makan selama 3 hari, iya?”. Aja tak peduli, kata-kata penghinaan itu angin lalu saja baginya. Dengan lebih semangat dari sebelumnya, ia menyantap lebih lahap lagi. Berbeda dengan Reza, yang sedari tadi hanya mual-mual tak jelas, lalu ia lototi makanan di hadapannya, lalu mual-mual lagi. Lebih pada seorang yang terjangkit penyakit was-was, tidur tak boleh sembarangan, makan pun begitu, katanya takut kena penyakit. Apalagi makan makanan yang tak jelas asal muasalnya, bisa-bisa ia terjangkit diare. Tak ada satu pun yang bisa membayangkan, dalam status sebagai tawanan, penyakit bolak-balik kamar mandi itu datang mengahampiri. Aisshh tak bisa terbayangkan dengan pakaian dalam seadanya, ia harus menyamar seperti strika yang harus mondar-mandir ke tempat buang hajat. Inilah penyakit manusia, ada-ada saja. Belum lagi dengan penulis ulung, Mareta. Ia tak urung mengeluarkan air mata. Tak pagi-siang-malam-sore-magrib-malam lagi-menjelang tengah malam- tengah malam-menjelang subuh-subuh-hingga pagi lagi ia masih saja mengeluarkan mutiara bening di sudut matanya itu. Pernah ia mengumbar alasannya menangis sepanjang waktu “Biar saja aku menangis, ini senjata kebebasan kita. Dengan air mata ini, mengkin saja si Setan syafwin dan mafia berwatak bejat lainnya itu mendapat rasa iba, lalu membebaskan kita” Sebenarnya alasannya sungguh tak efesein, yang namanya penjahat, tak kenal rasa iba. Lain lagi dengan rofik, yang selama menjadi tawanan, ia malah suka senyum-senyum sendiri. Tidur dengan senyum, makan dengan senyum, bahkan ke kamar mandi pun senyum-senyum. Seakan-akan bukan hanya dirinya yang di tawan, tapi juga hatinya. Tawanan kali ini tentu beda, hatinya mungkin telah di tumbuhi bunga-bunga cinta yang tumbuh bersemi bersama asmara yang ingin segera di belai mesra, lalu lallalalal kuning jingga ahh bukan maksudnya merah muda menjadi warna favoritnya. Mencium pagi lebih dari semangat tempur. Ketika hendak tidur ber lullaby lah bersama rasa diatas langit malam menggeser posisi bintang, merusak bentuk rasi yang menjadi petunjuk malam kurang lebih itulah yang biasa nya diungkapkan pujangga cinta. Aaaiyaa, bahkan Rofik tak jarang bersenandung dalam malam, lagu raja dangdut Bang Rhoma Irama menjadi andalannya “Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Tuhan memang adil, di tengah kegelisahan jiwa tentang penyergapan massal ini, Rofik merasakan jatuh cinta. Si Apri, tawanan yang tak pernah tersenyum. Mungkin sang Psikolog ini bingung, tentang apa kesalahannya hingga ia di tawan oleh mafia-mafia itu.

“ Bang Der, sepertinya kasus penculikan itu semakin menuju titik terang” Ungkap tika sembari memperhatikan satu-persatu foto-foto para mafia.
“Kau, jangan bersenang hati. Justru ini rumit. Mafianya adalah teman kita !” Perkataan sang intel meninggalkan kerutan di keningnya.
“Teman ?? Intel apa kau ini bang ? Kasus ya tetap di usut ! tidak peduli siapa yang berperan didalamnya!” Wajah tika memerah. Seakan ia tak percaya, sang intel sebegitu goyahnya.
“Iya, kau benar ! Motifnya adalah dendam, liat saja.. Semua tawanan berasal dari alumni SMA kita, dan mafianya pun juga begitu”
“Syafwin, Nurhasanah, Nando, Joko, Doni, Nurul, Evi, Dinda.. Benar-benar aneh.. “
“Belum lagi si centil Friska selalu saja mau tau urusan ku, aku muakk, muakk, muakkk !!!!”
“Alah bang, Friska cinta padamu. Bukan pada tunangannya si Syafwin itu !”
Derianto membalas perkataan Tika dengan tatapan sadis. Tika tertunduk, tak dapat melanjutkan kata.

Belum lama selesai makan, para tawanan di kejutkan dengan gumpalan asap putih yang mengepul di langit-langit ruangan. Panik tak karuan sudah menjadi tradisi di saat gencar seperti ini. Di tengah para tawanan sibuk menyelamat kan diri, Rofik malah sibuk mencari sosok wanita yang seakan-akan ingin ia lindungi. Aja, ia menarik tangan aja dengan secepat mungkin, mencoba berlari bersama dengan tangan kanannya setengah merangkul. 14 detik gencar, tiba-tiba ada sebuah layar disana. Tertera tulisan “ Selamat Datang”. Ntah apa maksudnya, yang jelas ruangan yang tadinya busuk merekah dan berasap pahit kini tiba-tiba telah tersimsalabim kan menjadi ruangan yang menakjubkan. Walaupun dekorasinya sedikit norak dengan warna-warna primer yang memuakkan. Di pintu utama ada gadis bertopi biru tua berdiri. Menyambut para tawanan dengan senyum yang selebar mungkin, terlihat giginya yang putih rapat-rapat, nur’aini. Disampingnya ada lima wanita yang sedari tadi tertawa-tawa puas. Ada Rosusi, Maya, fitriani, rahmi, dan Maysarah.  Lalu di mana mafia itu ? ah ini sudah direncanakan sebelumnya. Pertemuan haru yang awal skenarionya harus seperti penculikan massal, agar ada kesan yang tak biasa. Sungguh keren konsep ketua mafia, Syafwin. Sang intel nomor satu dan assistennya pun ikut tertipu. Semua berperan, kecuali hakima yang kini harus tinggal tokoh karena hakima baru saja menyandang status sebagai ibu selama seminggu yang lalu. Hakima terlalu sibuk dengan malaikat kecilnya. Acaranya tentu saja sudah bisa di tebak, temu alumni Kelas. Ada yang marah-marah, menangis, memeluk setiap orang sana sini, bahkan ada yang meratap-ratap. Mungkin perbedaan cara mereka menyambut pertemuan ini tergantung massa rindunya. Yang meratap-ratap tentu memiliki rindu yang beratnya berton-ton. Tak lama di antaranya ada seorang pria berambut ikal mendatangi Aja, lalu berdiri di sampingnya menggeser posisi Rofik.
“Kau baik-baik kan saja kan bu dokter?” Tanya lelaki itu
“Ya, tentu” Wajah Aja memerah. Ntah malu, ntah marah. Beberapa detik hening Rofik angkat bicara.
“Kau siapa ?” Pertanyaan di lambungkan pada lelaki yang baru datang itu. Keratamahan rofik memang tak terbatas, ia bertanya tak lupa memasang senyum termanis. Siapa saja yang melihatnya akan terhipnotis.
Belum sempat lelaki itu menjawab, suara lainnya menyambar
“Dia Pa’I, suami ku” Jelas Aja singkat. Lalu menggandeng tangan sang suami dan beranjak pergi meninggalkan Rofik yang semakin tipis senyumnya karena kecemburuan mendalam.

23-Okt-2013
17.47 wib





Biodata Penulis 
Nama : Mareta Asryanti Az
Tempat Tanggal Lahir : Subulussalam, 19 Maret 1997

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zen Oleh March Az

“Aku sudah jauh pergi dari kota yang mempertemukan kita.   Jauh, jauh sekali,   bahkan jika kau cari aku kembali, aku jamin kau tidak akan menemukan ku. karena aku sudah berjanji pada sejarah untuk melupakanmu” Itulah isi email yang kau kirim pada ku zen, kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Sering sepertiga malam setalah aku shalat malam, ku buka komputer lipat ku, sign in email dan mencari-cari pesan terakhirmu yang kau kirim padaku lewat email. Aku tau zen, ini bukanlah tahun-tahun pertama kau meninggal kan ku, tapi ada sesutu yang sulit ku jelaskan tentang posisimu di hatiku. Bahkan tanpa kabarmu dalam kurun waktu yang begitu lamapun hatiku tetap saja berada disana, bersamamu. Cinta ini memang sudah tak tampak, namun ia tak hilang. Ia hanya mengubah bentuk pencitraannya saja. Lebih nya cinta ini berkamuflase menjadi boomerang rindu yang ahh, tidak dapat ku sampainya zen. Jujur saja rasa rindu itu sedikit benyak membunuh jiwaku Zen, dulu saat-saat kita masih berseraga...

Makalah penelitian “ PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH”

OLEH: Nama                  : Rizky Syahputra Kelas                   : x3 Judul penelitiian : “ PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH” Kata penghantar Makalah penelitian Karya Ilmiah Remaja yang berjudul “PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH” bertujuan untuk mengupas lebih dalam tentang             pertumbuhan tanaman kacang tanah. Makalah penelitian ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah. Sebagai makalah penelitian, hakikatnya hasil dari penelitian-penelitian tersebut dijadikan satu hingga menjadi suatu himpunan karangan pengatahuan yang berguna untuk umum.. Para pembaca makala...

Katagori : Cerpen

Chebi dan Kempri Oleh : March Az Waktu subuh yang masih digulung kelam membawa katak yang tengah bermalas-malasan harus bangkit dari mimpi malamnya. Hutan membuatnya terpaksa melompat-lompat kembali kesana. Bukan prihal sederhana, karena ingin bersilaturahmi dengan hewan dan binatang lainnyya sekaligus memberi kabar gembira bahwa telah menetas diatas dunia yang penuh sandiwara ini anak-anaknya, kecebong indah dang mungil.   Sebelum ia berranjak pergi, tak lupa ia titipkan kecebong-kecebong ini pada tumbuhan Putri malu. Kecebongan yang tinggal didalam kubangan air berwarna coklat. “ Putri malu, ku amanatkan padamu anak-anakaku kempri” Pesan sang katak. Putri Malu terheran-heran mendengar sebutan kecebong tersebut. “Kempri?” tanya putri malu dalam hati. Sang katak seolah paham rasa gusar dihati Putri malu, segera ia menjelaskan menganai arti dari nama anak-ananknya itu. “ Kempri itu seperti nama-nama orang besar. Terdiri dari enam huruf. 4 konsonan dan 2 huruf vokal. 4 : 2 Se...