Langsung ke konten utama

Skenario Patah Hati (cerbung) Oleh : March Az



Sedari kecil kita ditanamkan semangat juang dan pantang menyerah oleh orang-orang yang kita sayang. Lagi-lagu kebangsaan dari Indonesia Raya sampai Maju Tak Gentar yang telah kota dengar bertahun-tahun lamanya pun mensugesti kita untuk tidak mudah menyerah. Tapi tidak dengan Viona, sejak semenit yang lalu tepatnya ia memutuskan untuk menyerah pada hidupnya. Tak mau makan, tak mau minum, tak mau tidur, tak mau berbenah, tak mau berdandan, serba tak mau. Ia hanya diam, menatap layar telepon genggam miliknya. Ada sebuah pesan singkat yang telah merampas kebahagiaannya.
From Aak Dika 0853456*****
“Dear Viona, aku tahu betul betapa mulianya hatimu, betapa tulusnya cintamu, serta betapa indah parasmu. Tentu tak pantaslah aku berharap lagi padamu, maka dari itu kuputuskan pergi untuk mencari kebahagiannya yang layak untukku. Tapi Viona, kau jangan marah atau membenci ku, suatu hal yang kau tau sampai detik ini aku masih peduli padamu. Jadi anggaplah kepergiaanku ini hasil dari mufakat kita bersama. Jangan segan mencari lelaki lain, pun aku juga mencari wanita sesuia dengan selera ku pula. Dan ku mohon Viona, berhentilah mengejar ku!!!”
Dengan delapan puluh kata dalam pesan singkat tersebut Viona lupa arti berjuang mencari kebahagiaan, ia larut dalam kesedihan. Menit pertama ia menagis sejadi-jadinya, lima belas menit kemudian ia kalap dan nyaris mengiris nadinya, untung saja Rita sahabatnya dengan susah payah mencegahnya. Satu hari setelah pesan singkat itu, ia uring-uringan. Menangis, lalu diam menagis lagi lalu diam lagi. Seminggu kemudian, matanya mulai menghitam, akibat tak bisa tidur selama seminggu. Bibirnya kering dan wajahnya pucat. Sihir hitam cinta mulai menusuk-nusuk perih hatinya. Sesekali Viona bertanya pada Rita “ Ini lebih sakit dari kau menusuk dirimu sendiri”
Setahun setelah drama patah hatinya, Viona masih belum bangkit. Kini ia terbujur lemah dipembaringan. Bau badannya mengisi ruang kamar, rambutnya acak-acakkan dan menjadi surge bagi parasit rambut, kutu. Rita sudah tak tahan, ia memeksa Viona untuk memeriksakan diri ke dokter. Viona pun memutuskan untuk pergi setelah Rita berusaha keras membujukknya.
“Rita, si Viona ini sakit karena hatinya telah patah. Sulit untuk bersatu karena patahannya berkeping-keping. Satu-satunya cara ialah, ia harus mendapat donor hati.”
Rita membawa Viona pulang, dalam perjalanannya ia mencoba mengingat masa kecilnya. Sungguh cinta telah merenggut kebahagiaannya. Cinta telah menutup jalannya menemukan cinta, Dalam ingatan republic abu-abu dalam kepalanya, ia teringat akan hidup terus berjalan. “Lalu apa aku bisa hidup dengan hati yang telah patah berkeping-keping? “Viona Membantin. Ntah Roh mana yang merasuki otaknya, Viona tertawa girang seolah-olah ia mendapat ilham.

Malam itu suara hujan mengisi kota. Lampu-lampu dijalan protocol mati tanpa sebab. Sebab. Bahkan listrik disebagain rumah penduduk juga mati. Dika duduk dikursi kayu beranda rumahnya dengan seorang wanita cantik. Ia menyeruput secangkir the ditemani biscuit susu. Wanita itu bersandar pada bahu Dika. Kondisi Dika berbanding balik dengan Viona yang telah sakit karena hatinya patah. Dika malah mengisi hidupnya dengan wanita baru. Ia bergitu menikmati cintanya yang sekarang. Sebenarnya Dika sudah lama bermain api dibelakang Viona, ia mampu menyusun rapi rahasianya. Namun belakangan Dika sudah tak mampu lagi bertahan dengan Viona karena pengaruh wanita barunya. Dengan berbagai cara dan alasan ia mencoba memutuskan hubungannya dengan Viona.
“Terima kasih Dika, sudah memilihku” Ucap wanita itu. Dika tanpa kata tersenyum manis dan mengecup kening kekasihnya. Cicak di dinding pun ikut berdecak seolah-olah mendukung kebahagian dua sejoli itu. Namun tiba-tiba listrik padam. Kekasih Dika panic tak karuan berteriak ketakutan. Ia berusaha memanggil Dika, namun nihil. Selang 45 detik listrik kembali menyala. Alangkah terkejutnya, dika terbujur dilantai dengan otot perut yang telah terkuak. Ada yang hilang dari Dika, organ hatinya telah tiada dan ntah kemana.
Subulussalam, 29 Maret 2018
Bersama aroma petrikor

Komentar

  1. Hmmmm, ini coba jelaskan ke aku

    BalasHapus
  2. mari gabung bersama kami di Aj0QQ*c0M
    BONUS CASHBACK 0.3% setiap senin
    BONUS REFERAL 20% seumur hidup

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog Penculikan Oleh : March Az

Intel berjaket kulit hitam pekat itu menoleh, dengan wajah penasaran ia mendorong pintu kayu yang lapuk dan bolong-bolong karena di gigit rayap. Terdengar sayup tangis dari dalam, mungkin dari salah satu sekat ruangan di dalam. “Deri…” Jerit seseorang disana. Dengan penuh rasa was-was intel ulung itu menoleh, ada wanita cantik disana. Perlahan sang intel berjalan mendekati wanita berparas elok itu. “Ah, kau Fris ! Mengganggu ku saja ? Sedang apa kau ?” sesekali Deri menengok kiri-kanan, takut kalau-kalau ada seseorang yang lain mengintainya. “Aku hanya ingin membantu menyelesaikan kasus ini” tukas Friska. Ia siap tempur dengan penampilan nya, sepatu bots setinggi lutut, T-shirt hitam, dan celana sepaha. Derianto bergeming meninggalkan Friska yang sedari tadi memajukan muncungnya karena kurang suka dengan respon sang intel. Friska mengikuti sang intel dari belakang, perasaan mereka harap-harap cemas. Untuk pertama kalinya ia rela mengorbankan ketakutannya untuk keberanian yang l...

Zen Oleh March Az

“Aku sudah jauh pergi dari kota yang mempertemukan kita.   Jauh, jauh sekali,   bahkan jika kau cari aku kembali, aku jamin kau tidak akan menemukan ku. karena aku sudah berjanji pada sejarah untuk melupakanmu” Itulah isi email yang kau kirim pada ku zen, kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Sering sepertiga malam setalah aku shalat malam, ku buka komputer lipat ku, sign in email dan mencari-cari pesan terakhirmu yang kau kirim padaku lewat email. Aku tau zen, ini bukanlah tahun-tahun pertama kau meninggal kan ku, tapi ada sesutu yang sulit ku jelaskan tentang posisimu di hatiku. Bahkan tanpa kabarmu dalam kurun waktu yang begitu lamapun hatiku tetap saja berada disana, bersamamu. Cinta ini memang sudah tak tampak, namun ia tak hilang. Ia hanya mengubah bentuk pencitraannya saja. Lebih nya cinta ini berkamuflase menjadi boomerang rindu yang ahh, tidak dapat ku sampainya zen. Jujur saja rasa rindu itu sedikit benyak membunuh jiwaku Zen, dulu saat-saat kita masih berseraga...