Langsung ke konten utama

Cinta Empat Tahun Oleh : March Az

Sudah ku jejaki senja yang tidak sengaja memotret beberapa sejarah cinta empat tahun itu. Bahkan riak ombak pun enggan menyapa ku saat aku berkunjung, mungkin ombak mengerti. Terlalu pahit untuk dikenang dan terlalu manis untuk dilupakan. Lewat senja yang dengan setia setiap harinya datang membawa srisaymsu jingga aku dengan sebuah kotak masa lalu mengenangmu. Lelaki tampan, dengan sengajanya membawa sebilah keputusasaan padaku yang saat itu, masih berusia 18 tahun. Aku sudah terlalu lama manghapus hama kan kau dari ingatanku. Sejak awal saat kita berjumpa bahkan sampai kau hilang tanpa kabar, namun nihil. Aku ingat, senyummu saat itu. Saat kau tertawa dengan bangganya melihat aku yang jatuh dipinggiran jalan dan darah yang mengalir dari robekan lutut terseret aspal kasar. Saat itulah aku benar-benar membencimu. Bukan kah itu pertemuan pertama kita ? Ya, jelas! Saat pertemuan pertama aku membencimu, bahka sangat membencimu.
Lalu mengapa bisa dengannya mudahnya kau ubah benciku menjadi cinta? Itu pertanyaan yang sangat sederhana. Cukup kau racik saja 4 sendok mantra cinta, dan 2 sendok bibit kasih sayang, puih jadilah aku terjatuh tanpa keberdayaan pada hatimu. Bahkan aku lupa, kita masih terlalu muda untuk jatuh cinta saat itu. Banyak hipotesa-hipotesa kita ciptakan, sepuluh tahun kemudian, dua puluh tahun kemudian, tiga puluh tahun kemudian, bahkan bagaimana rasanya jika aku mati atau kau mati. Kita terlalu senang bersemedi dalam fitrah cinta saat itu. Kemudian setelah empat tahun bersamamu, lewati warna-warna primer, sekunder,dan tersier, semua begitu indah dan cepat. Kalasi takdir menanti kita untuk sebuah perpisahan. Kita terpisah bermil-mil jauhnya. Itulah awalan rapuh nya relief yang telah susah payah kita ukir. Kau khilaf dan amnesia. Kau lupa, padaku gadis 18 tahun yang masih senantiasa menantimu. Kau hilang bersama debu-debu rindu. Tanpa kabar dan bayangan kau semakin hilang.Lama,satu dasawarsa lamanya.Kembalilah ku buka kitab lama, hipotesa-hipotesa kita melesat jauh tanpa siasat. Selama satu dasawarsa aku tidak mampu bangkit dari hatimu. Pagi bagaikan malam, siang bagaikan malam, malam bagaikan malam. Gelap gulita rasanya. Tiada bisa ku raba rasa cinta dari orang lain selain dirimu. Mungkin ini hukuman Tuhan, untuk hati yang mencintaimu secara berlebihan.
Ah sudahlah, itu hanya kisah cinta empat tahun yang sudah lewat satu dasawarsa . Mungkin kini kau telah berbini, beranak, bercucu, atau mungkin sudah bercicit. Kemungkinan lain bisa saja kau sudah beristri dua, beristri lima, beristri sebelas. Atau belum beristri  alias masih setia membujang kangkung.Satu hal yang kini aku heran kan, mengapa tiba-tiba kau hadir kembali dalam mimpiku ? Mengapa dalam mimpi itu kau tampak layu ? Seakan roh mu  sudah pergi melalang buana meninggalkan jasadnya. Mengapa kau bilang kau masih mencintaiku ? Ah sudahlah, sudah cukup banyak hipotesa yang gagal. Aku tak mau bermain-main lagi dengan persepsi ilmiah tentang mimpi ini. Mengapa kau ingin mengajak ku hidup bersamamu? Teka-teki seperti apa ini. Masuknya kau dalam mimpiku membuat ribuan serabut otak ku bersimpul, tak mampu berfikir.

Tapi kali ini degan yakin aku kembali berhipotesa. Aku melihatmu dalam mimpi pada sisi kegusaran. Kau gelisah, cinta yang lalu kau buang ke alam bawah sadar kini bangkit lagi. Prinsip-prinsip cintamu yang sombong itu kini perlahan rapuh, layaknya sebuah frame yang mulai menua. Dan aku yang sedari dulu belum mampu bangkit dari cintamu. Masih saja betah menangisi senja. Menyaksikan srisyamsu tenggelam sama dengan menyaksikan mu pergi. Sudah terlalu lama kegetiran inii bersemanyam. Kau dulu terlalu tega, membunuh hati yang tida bersalah 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zen Oleh March Az

“Aku sudah jauh pergi dari kota yang mempertemukan kita.   Jauh, jauh sekali,   bahkan jika kau cari aku kembali, aku jamin kau tidak akan menemukan ku. karena aku sudah berjanji pada sejarah untuk melupakanmu” Itulah isi email yang kau kirim pada ku zen, kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Sering sepertiga malam setalah aku shalat malam, ku buka komputer lipat ku, sign in email dan mencari-cari pesan terakhirmu yang kau kirim padaku lewat email. Aku tau zen, ini bukanlah tahun-tahun pertama kau meninggal kan ku, tapi ada sesutu yang sulit ku jelaskan tentang posisimu di hatiku. Bahkan tanpa kabarmu dalam kurun waktu yang begitu lamapun hatiku tetap saja berada disana, bersamamu. Cinta ini memang sudah tak tampak, namun ia tak hilang. Ia hanya mengubah bentuk pencitraannya saja. Lebih nya cinta ini berkamuflase menjadi boomerang rindu yang ahh, tidak dapat ku sampainya zen. Jujur saja rasa rindu itu sedikit benyak membunuh jiwaku Zen, dulu saat-saat kita masih berseraga...

Skenario Patah Hati (cerbung) Oleh : March Az

Sedari kecil kita ditanamkan semangat juang dan pantang menyerah oleh orang-orang yang kita sayang. Lagi-lagu kebangsaan dari Indonesia Raya sampai Maju Tak Gentar yang telah kota dengar bertahun-tahun lamanya pun mensugesti kita untuk tidak mudah menyerah. Tapi tidak dengan Viona, sejak semenit yang lalu tepatnya ia memutuskan untuk menyerah pada hidupnya. Tak mau makan, tak mau minum, tak mau tidur, tak mau berbenah, tak mau berdandan, serba tak mau. Ia hanya diam, menatap layar telepon genggam miliknya. Ada sebuah pesan singkat yang telah merampas kebahagiaannya. From Aak Dika 0853456***** “Dear Viona, aku tahu betul betapa mulianya hatimu, betapa tulusnya cintamu, serta betapa indah parasmu. Tentu tak pantaslah aku berharap lagi padamu, maka dari itu kuputuskan pergi untuk mencari kebahagiannya yang layak untukku. Tapi Viona, kau jangan marah atau membenci ku, suatu hal yang kau tau sampai detik ini aku masih peduli padamu. Jadi anggaplah kepergiaanku ini hasil dari mufaka...

Prolog Penculikan Oleh : March Az

Intel berjaket kulit hitam pekat itu menoleh, dengan wajah penasaran ia mendorong pintu kayu yang lapuk dan bolong-bolong karena di gigit rayap. Terdengar sayup tangis dari dalam, mungkin dari salah satu sekat ruangan di dalam. “Deri…” Jerit seseorang disana. Dengan penuh rasa was-was intel ulung itu menoleh, ada wanita cantik disana. Perlahan sang intel berjalan mendekati wanita berparas elok itu. “Ah, kau Fris ! Mengganggu ku saja ? Sedang apa kau ?” sesekali Deri menengok kiri-kanan, takut kalau-kalau ada seseorang yang lain mengintainya. “Aku hanya ingin membantu menyelesaikan kasus ini” tukas Friska. Ia siap tempur dengan penampilan nya, sepatu bots setinggi lutut, T-shirt hitam, dan celana sepaha. Derianto bergeming meninggalkan Friska yang sedari tadi memajukan muncungnya karena kurang suka dengan respon sang intel. Friska mengikuti sang intel dari belakang, perasaan mereka harap-harap cemas. Untuk pertama kalinya ia rela mengorbankan ketakutannya untuk keberanian yang l...