Langsung ke konten utama

Retorika Sendiri Karya : March Az


Anggap saja kau sendiri
tak punya siapa-siapa untuk bercerita
tak punya teman bersuka ria
tak punya makanan supaya kenyang
tak punya gadget agar tarhibur
tak punya uang buat berfoya-foya
Anggap saja tak punya
Anggap saja kau sendiri
Diteror dan meneror masalah sendiri
mencari jalan-jalan kemenangan sendiri
Disandra waktu sendiri
Dikhianati musim sendiri
Ditipu semilir angin pun sendiri
Mungkin sendiri itu destinasimu
Anggap saja kau sendiri sore ini
Dilorong-lorong waktu yang semakin mendesakmu
untuk terus sendiri
Ataupun tangis-tangis lirih yang menakutimu saat kau sendiri
Ataupun juga boomerang hidup yang terus mengurat nadi
mengakar hingga merusak jasmani mu
Sehingga, lagi-lagi kau sendiri
itukah duka sendiri ?
Senantiasi menertawaimu yang selalu berkencan dengan sepi
Anggap saja kau sendiri
Bergelut dalam doa sepanjang malam membentang
Berkomat-kamit dengan dzikir dalam butir-butir tasbih indah
Bermandikan air wudhu disetiap waktu
Lebih baik begitu
Dan kau tidak pernah sendiri
Tapaktuan, 07-Agt-2015

11.16 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog Penculikan Oleh : March Az

Intel berjaket kulit hitam pekat itu menoleh, dengan wajah penasaran ia mendorong pintu kayu yang lapuk dan bolong-bolong karena di gigit rayap. Terdengar sayup tangis dari dalam, mungkin dari salah satu sekat ruangan di dalam. “Deri…” Jerit seseorang disana. Dengan penuh rasa was-was intel ulung itu menoleh, ada wanita cantik disana. Perlahan sang intel berjalan mendekati wanita berparas elok itu. “Ah, kau Fris ! Mengganggu ku saja ? Sedang apa kau ?” sesekali Deri menengok kiri-kanan, takut kalau-kalau ada seseorang yang lain mengintainya. “Aku hanya ingin membantu menyelesaikan kasus ini” tukas Friska. Ia siap tempur dengan penampilan nya, sepatu bots setinggi lutut, T-shirt hitam, dan celana sepaha. Derianto bergeming meninggalkan Friska yang sedari tadi memajukan muncungnya karena kurang suka dengan respon sang intel. Friska mengikuti sang intel dari belakang, perasaan mereka harap-harap cemas. Untuk pertama kalinya ia rela mengorbankan ketakutannya untuk keberanian yang l...

Zen Oleh March Az

“Aku sudah jauh pergi dari kota yang mempertemukan kita.   Jauh, jauh sekali,   bahkan jika kau cari aku kembali, aku jamin kau tidak akan menemukan ku. karena aku sudah berjanji pada sejarah untuk melupakanmu” Itulah isi email yang kau kirim pada ku zen, kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Sering sepertiga malam setalah aku shalat malam, ku buka komputer lipat ku, sign in email dan mencari-cari pesan terakhirmu yang kau kirim padaku lewat email. Aku tau zen, ini bukanlah tahun-tahun pertama kau meninggal kan ku, tapi ada sesutu yang sulit ku jelaskan tentang posisimu di hatiku. Bahkan tanpa kabarmu dalam kurun waktu yang begitu lamapun hatiku tetap saja berada disana, bersamamu. Cinta ini memang sudah tak tampak, namun ia tak hilang. Ia hanya mengubah bentuk pencitraannya saja. Lebih nya cinta ini berkamuflase menjadi boomerang rindu yang ahh, tidak dapat ku sampainya zen. Jujur saja rasa rindu itu sedikit benyak membunuh jiwaku Zen, dulu saat-saat kita masih berseraga...

Skenario Patah Hati (cerbung) Oleh : March Az

Sedari kecil kita ditanamkan semangat juang dan pantang menyerah oleh orang-orang yang kita sayang. Lagi-lagu kebangsaan dari Indonesia Raya sampai Maju Tak Gentar yang telah kota dengar bertahun-tahun lamanya pun mensugesti kita untuk tidak mudah menyerah. Tapi tidak dengan Viona, sejak semenit yang lalu tepatnya ia memutuskan untuk menyerah pada hidupnya. Tak mau makan, tak mau minum, tak mau tidur, tak mau berbenah, tak mau berdandan, serba tak mau. Ia hanya diam, menatap layar telepon genggam miliknya. Ada sebuah pesan singkat yang telah merampas kebahagiaannya. From Aak Dika 0853456***** “Dear Viona, aku tahu betul betapa mulianya hatimu, betapa tulusnya cintamu, serta betapa indah parasmu. Tentu tak pantaslah aku berharap lagi padamu, maka dari itu kuputuskan pergi untuk mencari kebahagiannya yang layak untukku. Tapi Viona, kau jangan marah atau membenci ku, suatu hal yang kau tau sampai detik ini aku masih peduli padamu. Jadi anggaplah kepergiaanku ini hasil dari mufaka...