Langsung ke konten utama

Postingan

Dunia Tidak Sesempit Make Up Kit

Sete l ah bercakap-cakap dengan seorang teman saya (Red: Mawar) selama kurang lebih 27 menit  pembahasan yang super absurd (menit pertama membahas masalah jodoh, menit ke dua belas membahas perayaan maulid nabi, menit ke tujuh belas membahas prioritas cowoksaat treveling, dan menit-menit terakhir sebelum handpone tewas tak berdaya  membahas tentang wanita). Oke right, ini hasil dari dua pemikiran yang kebetulan dan ntah bagaimana bisa saat itu sejalan. Setelah di shake pemikiran ini dan itu, di add toping-toping tertentu kita dapat suatu pembelajaran “ Dunia tidak sesempit make up kit” . Why ? Untuk menjadi seorang ibu yang hebat “tidak harus” dengan make-up kit, baju mahal, sepatu cantik, dan tas mewah. Menjadi ibu yang hebat dengan cara pola asuh yang baik, iman yang teguh, ketulusannya yang luar biasa. Untuk menjadi wanita karir “tidak harus” dengan make-up kit, baju mahal, sepatu cantik, dan tas mewah, cukup dengan kemampuan, sosial, dan soft-skillnya. Loh, kok kata ...

Retorika Sendiri Karya : March Az

Anggap saja kau sendiri tak punya siapa-siapa untuk bercerita tak punya teman bersuka ria tak punya makanan supaya kenyang tak punya gadget agar tarhibur tak punya uang buat berfoya-foya Anggap saja tak punya Anggap saja kau sendiri Diteror dan meneror masalah sendiri mencari jalan-jalan kemenangan sendiri Disandra waktu sendiri Dikhianati musim sendiri Ditipu semilir angin pun sendiri Mungkin sendiri itu destinasimu Anggap saja kau sendiri sore ini Dilorong-lorong waktu yang semakin mendesakmu untuk terus sendiri Ataupun tangis-tangis lirih yang menakutimu saat kau sendiri Ataupun juga boomerang hidup yang terus mengurat nadi mengakar hingga merusak jasmani mu Sehingga, lagi-lagi kau sendiri itukah duka sendiri ? Senantiasi menertawaimu yang selalu berkencan dengan sepi Anggap saja kau sendiri Bergelut dalam doa sepanjang malam membentang Berkomat-kamit dengan dzikir dalam butir-butir tasbih indah Bermandikan air wudhu disetiap waktu Lebih baik begitu...

Balada Usai Senja Oleh March Az

Hujan telah usai. Sayup terdengar suara katak bernyanyi sahut me n yahut dengan alam malam. Aroma petrikor menjadi terapi kesedihan bagi setiap pecinta hujan. Listrik padam dikota itu, suara mesin genset menderu diudara. Malam itu, para jompo telah lelap dalam tidur malamnya, ada yang mendengkur, tertawa, mengigau menyebut nama mantan istrinya yang sudah berpuluh-puluh tahun bercerai , mengigau menyebut nama tetangga yang belum membayar utang sebesar 200 ribu rupiah, mengigau ingin menikahi gadis perawan, dan yang paling menyayat hati, menangis dalam tidur sembari memanggil nama anaknya. Namun mnasih saja ada dua orang lelaki tua bercengkrama dalam kamar petak berukuran sempit itu. Pa’i dan Mu’i bertemankan dua cangkir susu panas dengan asap yang mengepul indah pada bibir cangkir, sebu n gkus biskuit yang mereka dapatkan dari perawat panti yang ramah nan jelita . Pa’i dan Mu’i berinisiatif untuk tidak tidur terlalu cepat malam itu, sebab malam itu adalah malam yang berarti untuk...

SETANISME UANG Oleh : March Az

Aku berjalan dengan langkah cepat. Hatiku kacau, fikiranku risau,.Ah harus sekocar-kacir inikah aku ? Rasa khawatirku begitu besar, seakan maut benar-benar akan menjemput. Dari kejauhan aku melihat lelaki tinggi, berperawakan india, dengan wajah yang pucat pasi. Langkahku terhenti, fikiranku mulai terpusat pada lelaki itu. Sungguh kurang ajarnya dia, berani mengalihkan rasa khawatirku yang sedari tadi menggorogoti akal sehatku. Aku tertegun, ribuan sel syarafku mulai bekerja. Dan Ahaa, lelaki itu Udin, lelaki sekawanku ketika menjadi TKI di negara Paman Sam. Aku begitu menyukainya, Udin dan aku sama saat itu, kami sama-sama menyedihkan namun, yang teristimewa kami adalah pahlawan devisa untuk negara yang kaya raya ini. Aku lupa akan tujuan awalku, rasa penasaran dan rasa rindu menguasaiku. Aku mulai mendekatinya, menepuk pundaknya dan spontan saja ia tersontak dan melihat ke arahku. Udin gelagapan, bibirnya gemetaran ia sekaan ingin menyapa tapi dari bahasa tubuh nya tersirat bahw...

Tersirat Rembulan Cipt : Ira Afridha

Binar kaku terpancar diwajah itu Keluh kesah seakan saling berbagi waktu Tergores dengan panah,   yang panas, membara seperti api Bercampur kekeliruan seperti kedamaian tak kunjung datang Terlukis dibenakku tentang keharmonisan Akankah aku mendapatkan itu? ini bukan sekedar keharmonisan sesaat, tetapi cukup membuatku merasa hidup ditengah kedamaian Mungkin celotehanku ini, cukup membuat mereka mengerti akan pentingnya suasana Aku tidak menuntut apa-apa, aku hanya ingin mereka memahami bahwa aku ada, aku ingin dibanggakan ! Penat aku sendiri mendengar kebisingan disaatku berada ditengah kalian Mendegar apa yang tak pantas ku dengar Memahami yang tak seharusnya aku pahami Terfikir olehku, logikakah mereka menghardik, memaki di depan buah hatinya? apakah akan ada ketenangan ditempat yang ganas bersama kegelapan?! Aku! Ya, aku adalah pelita kalian Aku patutnya mendapat   kesenangan, bukan mendengar luapan emosi yang mencabik-cabik hati apalah art...

Tergerus Karya : March Az

Telah hilang bersama badai yang kau kirim Ubun-ubun ku melemah Telah kau hambat langkah pasti dengan beribu labirin Kau tiupkan ruh halus mengusik sanubari Terjajah, kehilangan akal sehat Menjamah pada hati yang tidak sudi terjamah Limbung dikelamnya kota tua Terkocok lepas seperti dadu-dadu bermata enam Terusir dari prinsip materialitas Seperti panjangan kuno yang semakin menua Manusia terbuang, tenggelam, kelam, kusam, tak berbayang. Dan puh...hilang Telah lama aku melajang Tergerus asmara oleh peradaban Tapaktuan,March 15 2016 7.23 Am

Sederet Puisi karya : March Az

Ada sederet puisi di angkasa Yang bilamana kau baca mungkin kau keliru maknanya Ada sederet puisi disananya dengan aturan yang tak sama Mungkin aliran kotemporer di pakai sang maestronya Berkilau pancarannya Ditulis kalasi dengan tinta emasnya Ada sederet puisi disana Yang sengaja ku tulis untukmu Lewat semesta yang mena malam menelenjangkan angkasa tapaktuan, 03 march 2015 14.05